Kamis, 22 September 2011

Bingung

Dinamika pemikiran manusia yang terhambat oleh indoktrinasi yang membelengu selalu membingungkanku. bagaimana bisa orang menerima suatu hal yang irasional, walaupun dapat disangkal secara logis, dan tetap membiarkan pemikiran irasional tersebut membatasi daya fikir kita dengan membuatnya memiliki garis batas psikologis. Ya, mungkin aku juga dulu seperti itu, dari kecil itulah yang diajari dan dipercayai. Ibarat peletakan batu pondasi pertama dalam otak, demi membentuk pengetahuan dasar terhadap dunia. Tapi, sepertinya pondasi tersebut tidak cukup kokoh dan juga proporsional, atau ada suatu hal yang menyebabkan kontradiksi yang dapat mengalahkan kekokohan-nya, atau mungkin, entahlah.

Aku tidak mengetahui saat yang pasti bagaimana transisi tersebut terjadi, karena hal tersebut terjadi melalui proses dan tahapan yang tak tentu. Mungkin saja hal tersebut terbentuk secara perlahan, dari tiap tetes pengetahuan yang merintik, dan tertadah selalu dalam suatu sistem aliran, dimana pada akhirnya dapat meleburkan pondasi yang terbilang kongkrit, merubahnya menjadi sungai pemikiran yang terus mengalir, memuaskan rasa keingintahuanku akan kenyataan melalui pandangan yang lebih universal, dalam posisi netral. Ah, tapi itu cuma kiasan yang aku buat-buat, buah hasil dari penggalian ke dalam kepalaku sendiri yang bila ditilik, yang muncul hanya luapan opini, dan masih harus dilihat dari suatu segi pandangan, dimana kenyataan masih semu dikarenakan perbedaan perspektif dalam menyatakan kebenaran dan juga sebaliknya, menimbulkan kebingungan dalam pemikiran dimana berbagai hal masih terbilang rancu.



Bintang Adamas
Ditulis, Kamis, 22 September 2011

Rabu, 22 Juni 2011

Ketidaktahuan Yang Membungkam

Biarlah algoritma kehidupan tak terjawab
Tak diketahui, dengan tidak adanya keingintahuan
Membentuk misteri, yang tabu bila dijelaskan
Memangkas rasionalita menjadi ringkas, tak jelas
Sebuah kebutuhan, akan kepercayaan yang membungkam


Bintang Adamas
Ditulis, Kamis, 22 September 2011

Sabtu, 18 Juni 2011

Tolong Buka Seragam Ini

Tolong, aku ingin membuka seragam yang melekat di tubuhku
Biarkan ku bakar, membuatnya berubah menjadi abu
Biarkan asap berkeliaran, mengurangi asupan oksigen kalian
Membunuh perlahan, hingga kalian semua terbujur kaku
Membawa kita pada kebebasan yang semu
Pada perbedaan yang membuat kita menjadi satu
Dan akan ku galikan kalian kubur sebagai balas budi, itu sebuah janji !
Akan ku gali kubur yang lapang dan nyaman untuk kalian
Hitung-hitung balas budi, atas hengkangnya perkara yang telah menggoncang hati pertiwi



Bintang Adamas
Ditulis, Minggu, 19 Juni 2011

Rabu, 18 Mei 2011

Paceklik Menuju Akhir Detik

Hidup indah musnah, menghadapi paceklik
Nada sopran dan tenor pun melengking
Kian lama, kian menanjak dan makin memekik
Hawa panas yang mendalam, bibir pun mengering
Nafas juga tersangkut, mentok di batang tenggorokan
Onggokan-onggokan perlahan menghilang,  tertinggal hanya tulang benulang
Berbaring, lesu, tiada tenaga di bawah matahari terik
Mata ku meratap ke langit-langit atap bumi
Sungguh ku tak peduli, mungkin aku lupa diri akan apa yang sebetulnya terjadi 
Sambil menunggu burung-burung bangkai datang,
Ku bernyanyi dan bernyanyi
"Naik.. naik ke puncak gunung. Tinggi.. tinggi sekali..."
Berharap mereka cepat datang, dan tidak telat
Tidak telat mengantar ku ke Kahyangan
Atau.. Entahlah...
Mungkin Naraka...



Bintang Adamas
Ditulis, Rabu, 18 Mei 2011

The accidental sea, and The Mountain of Salvation

I found a video that's about a real accidental sea in the middle of the desert of California! It traces back the history of the sea, how it was formed, and seeing it once being a wonderful utopia, to a horrid ghost town. Yet, There is still one man who chooses to stay in that horrid place, and sacrificed most of his lifetime to do labour for God in making The Mountain of Salvation. A place that looks like a hell surrounded  heaven.


Selasa, 17 Mei 2011

'98

Terpal hitam menyelimuti negeri ini
Kuasa feodal menumpas, tak peduli asasi
Bajik Menerjang mereka, berusaha membela kami

Satu, dua.. Dua puluh tiga
Semua bergelimang merah, tiada putih
Bajik-bajik terjebak
Kemana? Entah, lenyap...

Empat Bajik sirna, tertembak, tiada
Satu bangsa, sia berduka
Meletus amarah bagai ledukan gunung merapi
Beban anjak menaik, juga makin tersibar
Perlahan jatuh lengan kuasa, membuat jantung kian berdebar

Tiada daya, lengan tak tertahankan
Pada akhirnya berpindah tangan
Berjolak ria, membuat buta riang ternganga
Namun, hanya perisa manis belaka
Karena puing-puing lalu tetap ada
Membangun perlahan sebuah kegelapan yang tak terkira


Bintang Adamas
Ditulis, Sabtu, 12 Februari 2011

Tangisan Kematian

Kematian! Kematian!
Apa sebetulnya yang perlu ku tangisi?
Fisik mu yang hilang, takutkah aku lupa?
Bukankah jiwa mu kan tetap tinggal, tetap hidup selamanya?

Sungguh aku tak pernah lupa terhadap diri mu!
Karena aku masih dapat merasakan mu, walau entah kau berada dimana
Rupa, dan ucapan-ucapan mu terdahulu tetap terngiang dalam kepala
Dan sepertinya, perihal tentang mu sudah terjawab semua
Dan ku tahu kau tiada karena memang sudah tepat pada waktunya

Lalu? Sebetulnya apa yang perlu aku tangisi?
Mengapa tangisan ku makin lama makin meraung?
Mengapa tangisan ku makin lama makin menusuk kuping orang-orang?
Mengapa tangisan ku mulai memasuki empati orang secara mendalam?


Bintang Adamas
Ditulis, Rabu, 18 Mei 2011                                                  

Selasa, 19 April 2011

Penuntun

Timbul satu persatu, terlahir sebagai penuntun

Menuntun para buta arah, orang orang yang tak mengetahui jalan

Lambat laut, makin banyak para kaum penuntun

Tercipta peta, bukan terlahirkan sebagaimana mestinya

Makin banyak-nya, bisa dibilang semua, tak mau kalah oleh sesama

Sesampai pada titik dimana tiap penuntun mempunyai jalan sendiri

Hingga tiada yang mau dituntun, tercerai-berai oleh masing-masing persepsi

Menjalani setapak yang berbeda-beda, ada yang tersesat, ada yang sampai

Namun, tetap saja, sesama terlupa oleh benak masing-masing dari mereka




Bintang Adamas
Ditulis, Rabu, 20 April 2011

Sabtu, 16 April 2011

Andaikan aku yang diatas mimbar sana.

Mimbar jum'at, di tempati oleh para ustad, para ulama
Memberi ceramah, kepada kehadirat umat-nya
Berisikan suatu pesan, memprakasai suatu ajaran
Kira-kira 30 menit lama-nya, omong kosong merupakan sebagian dari isi
Tak melakukan pendekatan seksama, yang ada hanya pemikiran sepihak saja
Membuat pihak lain tak diberikan kesempatan untuk menguntai alasan
Yang pada akhirnya, banyak yang berkecil hati, juga terdiskriminasi

Andaikan aku yang berada diatas mimbar sana, aku hanya memperlukan 3 detik saja
Aku hanya ingin menyampaikan suatu ucapan yang sudah tersurat jelas
Suatu ucapan yang sering sekali dilantunkan
Aneh nya, juga menjadi suatu ucapan yang terlupakan
"lakum dinukum waliyadin. Bagimu agamamu, bagiku agamaku "





Bintang Adamas
Ditulis, Sabtu, 16 April 2011

Kamis, 14 April 2011

Home, and ready to write .

So, i just got home from a spiritual trip! A pilgrimage if i may presume, and it was exhausting, yet a fun experience for me! It also gave me some inspirations, building up my will to write! But i can't post them now in the cause of some particular problems, but I'll try as soon as i can!

Rabu, 30 Maret 2011

Agama, Edukasi, Keadilan.

Agama, siapa yang punya?
Tentu bukan ibu dan bapak...
Mengaku pintar. Namun kebodohan nya sungguh tak tertakar.
Cuma rajin ibadah, dan mengumpat dibalik alasan Tuhan.

Yang berbeda di terka, ada persamaan disangkal.
Aduh, sungguh pikiran kalian sangatlah dangkal!

Kau bilang aku bedebah. Namun, kutau kalian hanya takut kepada pemerintah.
Gaji datang dari nya, hanya melakukan tugas apa yang ditulis dalam kata.

Aku, kami! Korban ego kalian! Uang, doktrin, dan dogma merajalela!
Cuci otak kami dengan bayclin! dan kotori kembali dengan tinta permanen!

Kalian bilang "by the book!" aku bilang "kiss my ass!"
Kami terpaksa melakukanya, karena kalian berkata "kami lebih tua!"
Kecuali aku, karena kutau sebetulnya kalian hanya akan lebih cepat mati.

Ku marah, di bisebut berontak.
Dimana kebebasan berekspresi dari tutur kata sejujurnya?
Rangkaian aturan malah menghilangkan keadilan..




Bintang Adamas
Ditulis, Rabu, 30 Maret 2011

Selasa, 22 Maret 2011

DASI, PAKAIAN RAPI, PITI .

Orang
Mencopet sepuluh ribu
Dari seorang ibu-ibu
Digebuki masa
Ia pun sengsara
Diseret-seret kekantor polisi
Hingga kontak kulit dan aspal membuat percikan api

Dipenjara
Ukuran 1x1 meter saja
Hanya bisa makan tai berbentuk banana
Itu juga Kalau
              Tidak
              Keduluan
              Dimakan
              Orang lain



Orang
Korupsi sepuluh triliun
Dari para rakyat
Di maki-maki bangsa
Namun dia tenang saja
Di escort ke kantor polisi dengan santai
Bak bejemur di atas pantai

Dipenjara
Hanya 300 x 200 meter katanya
Mesen banana bebentuk tai aja bisa
Apa lagi yang lain-nya
Itu semua Asal
                 Ada
                 Piti-nya
                 Saja

Tidak adil?

Salahkan
Copet

Tidak
berdasi

Tidak
Berpakaian
Rapi

Dan
Apalagi

Tidak
Memiliki
Piti




Bintang Adamas
Ditulis, Jumat, 17 September 2010

Kolonia Imperia

I
Tak ada segala disana
Apa yang ada hanyalah penerapan pengetahuan Asia
Dari tanah Arabia, sampai Cina
Segala, secara fana dibentuk olehnya

II
Dahulu kala mencuri
Alih-alih akuisisi
Dibakar segala hal berisi
Membentuk kegelapan berduri
Buta menajam, orang terjangkit stupidity

III
Terbuka mata iblis
Terdiri tanah imperialis
Buta dibabat habis
Nurani tak tersiar tertulis

IV
Buta buka mata
Iblis habis tinta
Pena tak berguna
Namun itu sementara
Buta tetap buta ternyata

V
Bebas, terbuka
Buta tetaplah buta
Kesan belaka terasa
Buka mata satu dua tak berdaya
Tinta, pena pun tak berguna
Tak satupun bertutur kata
Apalagi membaca


Bintang Adamas
Ditulis, Selasa, 21 Desember 2010

Maaf, ini Indonesia

Malu blangsat taqwa beragama
Mencari masalah, nama kuasa di bawa nya
"Allahuakbar!" tersuar
Siar sontak amarah buta
Iman pantat menggelora

Tak pantas sesungguhnya
Tumpah darah, tiga nyawa sirna
"Alah lu barbar!" kata saya

"Lakum dinukum waliyadin" ustad berkata
Bhinneka Tunggal Ika minggat dari kepala
Hak Asasi Manusia entah kemana

- Maaf, ini Indonesia

Bintang Adamas
Ditulis, Senin, 7 Februari 2011

Senin, 21 Maret 2011

Malin Kundang, Sebuah cerita versi saya (Sajak)

Pada suatu ketika, ada seorang lelaki bernama Malin Kundang.
Ia hidup kaya nan sejahtera bersama Ibunya semata.
Kebutuhan cukup, cenderung berlebih, tak terletak kekurangan dalam hidupnya.
Kecuali satu hal saja.
Yaitu, belaian wanita selain dari kasih Ibunya.
Betapa risau untuk perjaka pada umur sepertinya.
Birahi memuncak tiada tara, dan kekosongan memenuhi segala rasa.
Dan inilah sebuah awal dari cerita.

Disaat kala Malin berkelana mengelilingi kota.
Ia berjumpa oleh seseorang wanita di pinggir sana.
Nampak manis wajah-nya, menggoda pria perjaka sepertinya.
Malin tak berani bersua padanya.
Hanya permainan kontak mata yang memperantarai mereka.

Hari demi hari terlewati, termakan fana.
Malin memberanikan juga tuk kontak langsung pada pujaanya.
Mereka berkenalan, dan beracap bersama.
Ada suatu yang terjangkit dalam diri keduanya.
Mereka mempunyai perasaan yang sama.
Yaitu cinta.

Pada suatu titik, Malin berkehendak melamar si Wanita.
Tapi Malin berpikir, Bahwa Ibu tak kan menerima nya.
Karena Wanita bukan dari kalangan berada.
Tapi Malin harus menghadapi rasanya.
Dan meminta diri pada ibunya, ia berupayalah.
Namun, seperti apa yang telah diterka, Ibu berkata "tidak".
Malin pada akhirnya membangkang, dan di usir oleh ibunya.
Sang Ibu bekata "Ya Tuhan! Kutuklah anak-ku ini menjadi batu!".

Malin sekarang bukan perjaka.
Ia telah mempersunting Wanita, dan berkehendak mempunyai anak dua, hidup makmur dan sejahtera.
Sang Ibu seperti apa sebelumnya adalah seorang janda.
Namun tambah ditinggal anak semata wayangnya.
Lalu, diujung sana, hampir membelah seantaro Nusantara.
Ada seorang lelaki membatu, tak bersalah.
Ia ternyata tertukar pada masa persalinanya, dikala dinas luar kota.
Yang palsu di Jakarta, yang asli di Sumatera.
Lantas kita tahu siapa anak Ibu sebenarnya.



Bintang Adamas.
Ditulis, Jumat, 03 Desember 2010

"TEEN ANGST IS LUV"

Hello! Just call me Adamas! A 16 year old boy with teen angst. I made this blog to express my raging hormones, my primary will to write. This blog will be filled by my poetry (in Indonesian), random entry post, and there might be some explicit content.