Rabu, 30 Maret 2011

Agama, Edukasi, Keadilan.

Agama, siapa yang punya?
Tentu bukan ibu dan bapak...
Mengaku pintar. Namun kebodohan nya sungguh tak tertakar.
Cuma rajin ibadah, dan mengumpat dibalik alasan Tuhan.

Yang berbeda di terka, ada persamaan disangkal.
Aduh, sungguh pikiran kalian sangatlah dangkal!

Kau bilang aku bedebah. Namun, kutau kalian hanya takut kepada pemerintah.
Gaji datang dari nya, hanya melakukan tugas apa yang ditulis dalam kata.

Aku, kami! Korban ego kalian! Uang, doktrin, dan dogma merajalela!
Cuci otak kami dengan bayclin! dan kotori kembali dengan tinta permanen!

Kalian bilang "by the book!" aku bilang "kiss my ass!"
Kami terpaksa melakukanya, karena kalian berkata "kami lebih tua!"
Kecuali aku, karena kutau sebetulnya kalian hanya akan lebih cepat mati.

Ku marah, di bisebut berontak.
Dimana kebebasan berekspresi dari tutur kata sejujurnya?
Rangkaian aturan malah menghilangkan keadilan..




Bintang Adamas
Ditulis, Rabu, 30 Maret 2011

Selasa, 22 Maret 2011

DASI, PAKAIAN RAPI, PITI .

Orang
Mencopet sepuluh ribu
Dari seorang ibu-ibu
Digebuki masa
Ia pun sengsara
Diseret-seret kekantor polisi
Hingga kontak kulit dan aspal membuat percikan api

Dipenjara
Ukuran 1x1 meter saja
Hanya bisa makan tai berbentuk banana
Itu juga Kalau
              Tidak
              Keduluan
              Dimakan
              Orang lain



Orang
Korupsi sepuluh triliun
Dari para rakyat
Di maki-maki bangsa
Namun dia tenang saja
Di escort ke kantor polisi dengan santai
Bak bejemur di atas pantai

Dipenjara
Hanya 300 x 200 meter katanya
Mesen banana bebentuk tai aja bisa
Apa lagi yang lain-nya
Itu semua Asal
                 Ada
                 Piti-nya
                 Saja

Tidak adil?

Salahkan
Copet

Tidak
berdasi

Tidak
Berpakaian
Rapi

Dan
Apalagi

Tidak
Memiliki
Piti




Bintang Adamas
Ditulis, Jumat, 17 September 2010

Kolonia Imperia

I
Tak ada segala disana
Apa yang ada hanyalah penerapan pengetahuan Asia
Dari tanah Arabia, sampai Cina
Segala, secara fana dibentuk olehnya

II
Dahulu kala mencuri
Alih-alih akuisisi
Dibakar segala hal berisi
Membentuk kegelapan berduri
Buta menajam, orang terjangkit stupidity

III
Terbuka mata iblis
Terdiri tanah imperialis
Buta dibabat habis
Nurani tak tersiar tertulis

IV
Buta buka mata
Iblis habis tinta
Pena tak berguna
Namun itu sementara
Buta tetap buta ternyata

V
Bebas, terbuka
Buta tetaplah buta
Kesan belaka terasa
Buka mata satu dua tak berdaya
Tinta, pena pun tak berguna
Tak satupun bertutur kata
Apalagi membaca


Bintang Adamas
Ditulis, Selasa, 21 Desember 2010

Maaf, ini Indonesia

Malu blangsat taqwa beragama
Mencari masalah, nama kuasa di bawa nya
"Allahuakbar!" tersuar
Siar sontak amarah buta
Iman pantat menggelora

Tak pantas sesungguhnya
Tumpah darah, tiga nyawa sirna
"Alah lu barbar!" kata saya

"Lakum dinukum waliyadin" ustad berkata
Bhinneka Tunggal Ika minggat dari kepala
Hak Asasi Manusia entah kemana

- Maaf, ini Indonesia

Bintang Adamas
Ditulis, Senin, 7 Februari 2011

Senin, 21 Maret 2011

Malin Kundang, Sebuah cerita versi saya (Sajak)

Pada suatu ketika, ada seorang lelaki bernama Malin Kundang.
Ia hidup kaya nan sejahtera bersama Ibunya semata.
Kebutuhan cukup, cenderung berlebih, tak terletak kekurangan dalam hidupnya.
Kecuali satu hal saja.
Yaitu, belaian wanita selain dari kasih Ibunya.
Betapa risau untuk perjaka pada umur sepertinya.
Birahi memuncak tiada tara, dan kekosongan memenuhi segala rasa.
Dan inilah sebuah awal dari cerita.

Disaat kala Malin berkelana mengelilingi kota.
Ia berjumpa oleh seseorang wanita di pinggir sana.
Nampak manis wajah-nya, menggoda pria perjaka sepertinya.
Malin tak berani bersua padanya.
Hanya permainan kontak mata yang memperantarai mereka.

Hari demi hari terlewati, termakan fana.
Malin memberanikan juga tuk kontak langsung pada pujaanya.
Mereka berkenalan, dan beracap bersama.
Ada suatu yang terjangkit dalam diri keduanya.
Mereka mempunyai perasaan yang sama.
Yaitu cinta.

Pada suatu titik, Malin berkehendak melamar si Wanita.
Tapi Malin berpikir, Bahwa Ibu tak kan menerima nya.
Karena Wanita bukan dari kalangan berada.
Tapi Malin harus menghadapi rasanya.
Dan meminta diri pada ibunya, ia berupayalah.
Namun, seperti apa yang telah diterka, Ibu berkata "tidak".
Malin pada akhirnya membangkang, dan di usir oleh ibunya.
Sang Ibu bekata "Ya Tuhan! Kutuklah anak-ku ini menjadi batu!".

Malin sekarang bukan perjaka.
Ia telah mempersunting Wanita, dan berkehendak mempunyai anak dua, hidup makmur dan sejahtera.
Sang Ibu seperti apa sebelumnya adalah seorang janda.
Namun tambah ditinggal anak semata wayangnya.
Lalu, diujung sana, hampir membelah seantaro Nusantara.
Ada seorang lelaki membatu, tak bersalah.
Ia ternyata tertukar pada masa persalinanya, dikala dinas luar kota.
Yang palsu di Jakarta, yang asli di Sumatera.
Lantas kita tahu siapa anak Ibu sebenarnya.



Bintang Adamas.
Ditulis, Jumat, 03 Desember 2010

"TEEN ANGST IS LUV"

Hello! Just call me Adamas! A 16 year old boy with teen angst. I made this blog to express my raging hormones, my primary will to write. This blog will be filled by my poetry (in Indonesian), random entry post, and there might be some explicit content.