Selasa, 14 Februari 2012

(In)definit

Akankah datang suatu saat dimana bangkai-bangkai dibangkitkan-Nya dari tanah? Lalu ditempatkankah oleh-nya pada inti panas mendalam? Dimana auman ampun bersorak, berteriak, karena mispersepsi, intoleransi yang dijunjung tinggi, selagi Tuhan mengajarkan kasih sayang. Karena perilaku atas rasa pamrih, bukan saja pada sesama, tapi juga pada ajaran, juga Tuhan, membawanya sedemikian pada titik terperosok, dimana semestinya dilakukan atas nama kebaikan. Karena ketidakpercayaan terhadap kebebasan yang diberikan oleh Tuhan, menyebabkan kebenaran, kebohongan, keburukan, dan kebaikan dimana semestinya terus berprogres, terhambat.

Bintang Adamas
Ditulis;  Rabu, 15 Februari 2012

Kamis, 22 September 2011

Bingung

Dinamika pemikiran manusia yang terhambat oleh indoktrinasi yang membelengu selalu membingungkanku. bagaimana bisa orang menerima suatu hal yang irasional, walaupun dapat disangkal secara logis, dan tetap membiarkan pemikiran irasional tersebut membatasi daya fikir kita dengan membuatnya memiliki garis batas psikologis. Ya, mungkin aku juga dulu seperti itu, dari kecil itulah yang diajari dan dipercayai. Ibarat peletakan batu pondasi pertama dalam otak, demi membentuk pengetahuan dasar terhadap dunia. Tapi, sepertinya pondasi tersebut tidak cukup kokoh dan juga proporsional, atau ada suatu hal yang menyebabkan kontradiksi yang dapat mengalahkan kekokohan-nya, atau mungkin, entahlah.

Aku tidak mengetahui saat yang pasti bagaimana transisi tersebut terjadi, karena hal tersebut terjadi melalui proses dan tahapan yang tak tentu. Mungkin saja hal tersebut terbentuk secara perlahan, dari tiap tetes pengetahuan yang merintik, dan tertadah selalu dalam suatu sistem aliran, dimana pada akhirnya dapat meleburkan pondasi yang terbilang kongkrit, merubahnya menjadi sungai pemikiran yang terus mengalir, memuaskan rasa keingintahuanku akan kenyataan melalui pandangan yang lebih universal, dalam posisi netral. Ah, tapi itu cuma kiasan yang aku buat-buat, buah hasil dari penggalian ke dalam kepalaku sendiri yang bila ditilik, yang muncul hanya luapan opini, dan masih harus dilihat dari suatu segi pandangan, dimana kenyataan masih semu dikarenakan perbedaan perspektif dalam menyatakan kebenaran dan juga sebaliknya, menimbulkan kebingungan dalam pemikiran dimana berbagai hal masih terbilang rancu.



Bintang Adamas
Ditulis, Kamis, 22 September 2011

Rabu, 22 Juni 2011

Ketidaktahuan Yang Membungkam

Biarlah algoritma kehidupan tak terjawab
Tak diketahui, dengan tidak adanya keingintahuan
Membentuk misteri, yang tabu bila dijelaskan
Memangkas rasionalita menjadi ringkas, tak jelas
Sebuah kebutuhan, akan kepercayaan yang membungkam


Bintang Adamas
Ditulis, Kamis, 22 September 2011

Sabtu, 18 Juni 2011

Tolong Buka Seragam Ini

Tolong, aku ingin membuka seragam yang melekat di tubuhku
Biarkan ku bakar, membuatnya berubah menjadi abu
Biarkan asap berkeliaran, mengurangi asupan oksigen kalian
Membunuh perlahan, hingga kalian semua terbujur kaku
Membawa kita pada kebebasan yang semu
Pada perbedaan yang membuat kita menjadi satu
Dan akan ku galikan kalian kubur sebagai balas budi, itu sebuah janji !
Akan ku gali kubur yang lapang dan nyaman untuk kalian
Hitung-hitung balas budi, atas hengkangnya perkara yang telah menggoncang hati pertiwi



Bintang Adamas
Ditulis, Minggu, 19 Juni 2011

Rabu, 18 Mei 2011

Paceklik Menuju Akhir Detik

Hidup indah musnah, menghadapi paceklik
Nada sopran dan tenor pun melengking
Kian lama, kian menanjak dan makin memekik
Hawa panas yang mendalam, bibir pun mengering
Nafas juga tersangkut, mentok di batang tenggorokan
Onggokan-onggokan perlahan menghilang,  tertinggal hanya tulang benulang
Berbaring, lesu, tiada tenaga di bawah matahari terik
Mata ku meratap ke langit-langit atap bumi
Sungguh ku tak peduli, mungkin aku lupa diri akan apa yang sebetulnya terjadi 
Sambil menunggu burung-burung bangkai datang,
Ku bernyanyi dan bernyanyi
"Naik.. naik ke puncak gunung. Tinggi.. tinggi sekali..."
Berharap mereka cepat datang, dan tidak telat
Tidak telat mengantar ku ke Kahyangan
Atau.. Entahlah...
Mungkin Naraka...



Bintang Adamas
Ditulis, Rabu, 18 Mei 2011

The accidental sea, and The Mountain of Salvation

I found a video that's about a real accidental sea in the middle of the desert of California! It traces back the history of the sea, how it was formed, and seeing it once being a wonderful utopia, to a horrid ghost town. Yet, There is still one man who chooses to stay in that horrid place, and sacrificed most of his lifetime to do labour for God in making The Mountain of Salvation. A place that looks like a hell surrounded  heaven.


Selasa, 17 Mei 2011

'98

Terpal hitam menyelimuti negeri ini
Kuasa feodal menumpas, tak peduli asasi
Bajik Menerjang mereka, berusaha membela kami

Satu, dua.. Dua puluh tiga
Semua bergelimang merah, tiada putih
Bajik-bajik terjebak
Kemana? Entah, lenyap...

Empat Bajik sirna, tertembak, tiada
Satu bangsa, sia berduka
Meletus amarah bagai ledukan gunung merapi
Beban anjak menaik, juga makin tersibar
Perlahan jatuh lengan kuasa, membuat jantung kian berdebar

Tiada daya, lengan tak tertahankan
Pada akhirnya berpindah tangan
Berjolak ria, membuat buta riang ternganga
Namun, hanya perisa manis belaka
Karena puing-puing lalu tetap ada
Membangun perlahan sebuah kegelapan yang tak terkira


Bintang Adamas
Ditulis, Sabtu, 12 Februari 2011