Rabu, 18 Mei 2011

Paceklik Menuju Akhir Detik

Hidup indah musnah, menghadapi paceklik
Nada sopran dan tenor pun melengking
Kian lama, kian menanjak dan makin memekik
Hawa panas yang mendalam, bibir pun mengering
Nafas juga tersangkut, mentok di batang tenggorokan
Onggokan-onggokan perlahan menghilang,  tertinggal hanya tulang benulang
Berbaring, lesu, tiada tenaga di bawah matahari terik
Mata ku meratap ke langit-langit atap bumi
Sungguh ku tak peduli, mungkin aku lupa diri akan apa yang sebetulnya terjadi 
Sambil menunggu burung-burung bangkai datang,
Ku bernyanyi dan bernyanyi
"Naik.. naik ke puncak gunung. Tinggi.. tinggi sekali..."
Berharap mereka cepat datang, dan tidak telat
Tidak telat mengantar ku ke Kahyangan
Atau.. Entahlah...
Mungkin Naraka...



Bintang Adamas
Ditulis, Rabu, 18 Mei 2011

The accidental sea, and The Mountain of Salvation

I found a video that's about a real accidental sea in the middle of the desert of California! It traces back the history of the sea, how it was formed, and seeing it once being a wonderful utopia, to a horrid ghost town. Yet, There is still one man who chooses to stay in that horrid place, and sacrificed most of his lifetime to do labour for God in making The Mountain of Salvation. A place that looks like a hell surrounded  heaven.


Selasa, 17 Mei 2011

'98

Terpal hitam menyelimuti negeri ini
Kuasa feodal menumpas, tak peduli asasi
Bajik Menerjang mereka, berusaha membela kami

Satu, dua.. Dua puluh tiga
Semua bergelimang merah, tiada putih
Bajik-bajik terjebak
Kemana? Entah, lenyap...

Empat Bajik sirna, tertembak, tiada
Satu bangsa, sia berduka
Meletus amarah bagai ledukan gunung merapi
Beban anjak menaik, juga makin tersibar
Perlahan jatuh lengan kuasa, membuat jantung kian berdebar

Tiada daya, lengan tak tertahankan
Pada akhirnya berpindah tangan
Berjolak ria, membuat buta riang ternganga
Namun, hanya perisa manis belaka
Karena puing-puing lalu tetap ada
Membangun perlahan sebuah kegelapan yang tak terkira


Bintang Adamas
Ditulis, Sabtu, 12 Februari 2011

Tangisan Kematian

Kematian! Kematian!
Apa sebetulnya yang perlu ku tangisi?
Fisik mu yang hilang, takutkah aku lupa?
Bukankah jiwa mu kan tetap tinggal, tetap hidup selamanya?

Sungguh aku tak pernah lupa terhadap diri mu!
Karena aku masih dapat merasakan mu, walau entah kau berada dimana
Rupa, dan ucapan-ucapan mu terdahulu tetap terngiang dalam kepala
Dan sepertinya, perihal tentang mu sudah terjawab semua
Dan ku tahu kau tiada karena memang sudah tepat pada waktunya

Lalu? Sebetulnya apa yang perlu aku tangisi?
Mengapa tangisan ku makin lama makin meraung?
Mengapa tangisan ku makin lama makin menusuk kuping orang-orang?
Mengapa tangisan ku mulai memasuki empati orang secara mendalam?


Bintang Adamas
Ditulis, Rabu, 18 Mei 2011