Senin, 21 Maret 2011

Malin Kundang, Sebuah cerita versi saya (Sajak)

Pada suatu ketika, ada seorang lelaki bernama Malin Kundang.
Ia hidup kaya nan sejahtera bersama Ibunya semata.
Kebutuhan cukup, cenderung berlebih, tak terletak kekurangan dalam hidupnya.
Kecuali satu hal saja.
Yaitu, belaian wanita selain dari kasih Ibunya.
Betapa risau untuk perjaka pada umur sepertinya.
Birahi memuncak tiada tara, dan kekosongan memenuhi segala rasa.
Dan inilah sebuah awal dari cerita.

Disaat kala Malin berkelana mengelilingi kota.
Ia berjumpa oleh seseorang wanita di pinggir sana.
Nampak manis wajah-nya, menggoda pria perjaka sepertinya.
Malin tak berani bersua padanya.
Hanya permainan kontak mata yang memperantarai mereka.

Hari demi hari terlewati, termakan fana.
Malin memberanikan juga tuk kontak langsung pada pujaanya.
Mereka berkenalan, dan beracap bersama.
Ada suatu yang terjangkit dalam diri keduanya.
Mereka mempunyai perasaan yang sama.
Yaitu cinta.

Pada suatu titik, Malin berkehendak melamar si Wanita.
Tapi Malin berpikir, Bahwa Ibu tak kan menerima nya.
Karena Wanita bukan dari kalangan berada.
Tapi Malin harus menghadapi rasanya.
Dan meminta diri pada ibunya, ia berupayalah.
Namun, seperti apa yang telah diterka, Ibu berkata "tidak".
Malin pada akhirnya membangkang, dan di usir oleh ibunya.
Sang Ibu bekata "Ya Tuhan! Kutuklah anak-ku ini menjadi batu!".

Malin sekarang bukan perjaka.
Ia telah mempersunting Wanita, dan berkehendak mempunyai anak dua, hidup makmur dan sejahtera.
Sang Ibu seperti apa sebelumnya adalah seorang janda.
Namun tambah ditinggal anak semata wayangnya.
Lalu, diujung sana, hampir membelah seantaro Nusantara.
Ada seorang lelaki membatu, tak bersalah.
Ia ternyata tertukar pada masa persalinanya, dikala dinas luar kota.
Yang palsu di Jakarta, yang asli di Sumatera.
Lantas kita tahu siapa anak Ibu sebenarnya.



Bintang Adamas.
Ditulis, Jumat, 03 Desember 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar