Terpal hitam menyelimuti negeri ini
Kuasa feodal menumpas, tak peduli asasi
Bajik Menerjang mereka, berusaha membela kami
Satu, dua.. Dua puluh tiga
Semua bergelimang merah, tiada putih
Bajik-bajik terjebak
Kemana? Entah, lenyap...
Empat Bajik sirna, tertembak, tiada
Satu bangsa, sia berduka
Meletus amarah bagai ledukan gunung merapi
Beban anjak menaik, juga makin tersibar
Perlahan jatuh lengan kuasa, membuat jantung kian berdebar
Tiada daya, lengan tak tertahankan
Pada akhirnya berpindah tangan
Berjolak ria, membuat buta riang ternganga
Namun, hanya perisa manis belaka
Karena puing-puing lalu tetap ada
Membangun perlahan sebuah kegelapan yang tak terkira
Bintang Adamas
Ditulis, Sabtu, 12 Februari 2011
Kuasa feodal menumpas, tak peduli asasi
Bajik Menerjang mereka, berusaha membela kami
Satu, dua.. Dua puluh tiga
Semua bergelimang merah, tiada putih
Bajik-bajik terjebak
Kemana? Entah, lenyap...
Empat Bajik sirna, tertembak, tiada
Satu bangsa, sia berduka
Meletus amarah bagai ledukan gunung merapi
Beban anjak menaik, juga makin tersibar
Perlahan jatuh lengan kuasa, membuat jantung kian berdebar
Tiada daya, lengan tak tertahankan
Pada akhirnya berpindah tangan
Berjolak ria, membuat buta riang ternganga
Namun, hanya perisa manis belaka
Karena puing-puing lalu tetap ada
Membangun perlahan sebuah kegelapan yang tak terkira
Bintang Adamas
Ditulis, Sabtu, 12 Februari 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar