Timbul satu persatu, terlahir sebagai penuntun
Menuntun para buta arah, orang orang yang tak mengetahui jalan
Lambat laut, makin banyak para kaum penuntun
Tercipta peta, bukan terlahirkan sebagaimana mestinya
Makin banyak-nya, bisa dibilang semua, tak mau kalah oleh sesama
Sesampai pada titik dimana tiap penuntun mempunyai jalan sendiri
Hingga tiada yang mau dituntun, tercerai-berai oleh masing-masing persepsi
Menjalani setapak yang berbeda-beda, ada yang tersesat, ada yang sampai
Namun, tetap saja, sesama terlupa oleh benak masing-masing dari mereka
Bintang Adamas
Ditulis, Rabu, 20 April 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar